Viewing: masalah-arsip-produksi-musik-modern

TL;DR

Dengan menyadari proses pembuatan musik yang terbagi menjadi beberapa bagian, kita bisa membuat skema pengarsipan yang lebih tangguh terhadap terpaan jaman. Dibarengi dengan penggunaan format rekam dan salinan yang lebih umum, kita bisa mencegah membusuknya aset karya kita ke depannya.

Arsip yang Membusuk

Sudah lewat sekitar dua tahun dari sejak terakhir kali saya membuat karya musik. Saya jadi teringat suatu momen sekitar 3-4 tahunan lalu, saya sempat beralih sistem, dan saya harus mengalihkan semua backup karya saya ke komputer baru.

Mungkin teman-teman sesama produser musik kamar mandi juga pernah mengalami hal yang sama. Saat kita berusaha mengembalikan semua perangkat lunak yang kita gunakan dulu, ternyata oh ternyata, banyak plugin yang entah di mana installernya. Atau, entah mengapa sekarang ada error, dan tak bisa berjalan semestinya. Atau ternyata suaranya sedikit beda dengan yang dulu, karena file presetnya entah di mana.

Misalnya seperti di bawah ini ini awkawkawk.

Missing Plugin

Alhasil kita kehilangan aset karya yang sudah kita bangun sejak lama.

Para musisi dan produser profesional mungkin karena sifat pekerjaannya yang punya pertaruhan lebih besar (baca: duit dan penghidupan) punya alur kerja yang lebih rapi dan lebih tahan banting terhadap hal-hal demikian. Kalau teman-teman ada yang tahu artikel atau knowledge base yang lengkap tentang topik ini, tolong bagikan ke saya juga ya.

Saya sendiri juga mulai berpikir bagaimana cara untuk mengatasi permasalahan ini. Berikut adalah pola pikir dasar yang saya gunakan.

  1. Memilah alur kerja normal proses produksi lagu saya pada umumnya.
  2. Pastikan setiap hasil akhir dari setiap langkah di atas memiliki salinan utuh dalam format yang seumum mungkin.

Dengan pola pikir di atas, saya coba melihat apa saja inti permasalahan dan solusi yang bisa diterapkan. Berikut saya jelaskan.

DISCLAIMER: Semua ini hanya teori saya belaka

Masalah #1: Alur Kerja Terlalu Integral

Coba kita terapkan pola pikir di atas ke dalam alur kerja. Sebagai contoh, saat membuat lagu, biasanya saya mengikuti langkah-langkah berikut:

  1. Membuat lick-lick singkat sebagai benih lagu
  2. Membangun kerangka lagu menggunakan instrumen-instrumen dasar, baik rekaman audio maupun midi
  3. Mengisi aransemen (batik/rekam midi, atau rekam audio) sambil mencari warna suara yang bagus (pemilihan instrumen dan sound effect)
  4. Mixing
  5. Ulang 2-3 sampai puas
  6. Mastering

Permasalahan utama dalam proses pembuatan musik modern ada di dalam loop nomor 2-3 di atas. Pada situasi industri, loop ini akan ada batasnya, karena biasanya 2 dan 3 dilakukan oleh orang yang berbeda. Nomor 2 oleh seniman dan insinyur rekaman, nomor 3 oleh insinyur mixing. Kalau dikerjakan oleh oang yang berbeda, proses pengarsipan akan dilakukan dengan lebih rapi.

Jika semua dilaksanakan oleh hanya satu orang, orang tersebut akan merasa produk yang perlu dia arsipkan hanyalah produk akhirnya saja. Dalam hal ini hasil render lagu untuk dirilis. Alhasil, dia tidak menyadari ada produk-produk intermedier yang sebenarnya perlu diarsip juga.

Di sinilah letak kesalahan saya.

Dengan pelajaran ini, yang perlu saya lakukan adalah:

  1. Membagi file proyek menjadi (paling sedikit) 4 buah, sesuai tahapan di atas.
  2. Render setiap hasil tahapan proyek dan gunakan hasil render itu sebagai input bagi tahapan proyek berikutnya

Bagi yang sering bergelut di bidang IT atau manufaktur, ini mirip dengan metode waterfall atau pipelining. Prinsipnya mirip dan umum.

Masalah #2: Format Arsip yang Rentan Busuk

Dalam ramainya instrumen dan efek virtual zaman sekarang ini, memiliki salinan yang bisa dibaca manusia atas aransemen kita menjadi sangat penting. Sebisa mungkin jangan terlalu bergantung pada komputer dan perangkat lunak kita saja.

Misalnya, cara yang paling ideal adalah dengan menggunakan sheet music. Pengetahuan tentang cara baca sheet music tersedia secara umum dan bisa dipelajari siapapun dan tidak akan hilang dari muka bumi dalam sekejap. Paling tidak, kalau si empu penulis aransemen sudah bisa baca yang dia tulis sendiri, arsip tersebut akan menjadi lebih kekal dibanding kalau kita harus begantung pada suatu perangkat khusus.

Kalau tidak bisa baca tulis sheet music, pilihan kedua adalah catatan dalam file MIDI. Format file MIDI mirip dengan sheet music dalam artian pengetahuan tentang struktur file MIDI tersedia luas dan dijaga oleh perhimpunan industri musik.

Yang perlu diperhatikan di sini adalah simpan file tersebut sebisa mungkin dalam bentuk General MIDI, format yang paling dijamin bisa dibaca semua orang. Bukan yang cuma bisa dibaca oleh peralatan dari perusahaan tertentu saja.

Berikutnya adalah format untuk rekaman performance. Ini menjadi lebih pelik. Performance ini bisa dilakukan oleh komputer atau kita sendiri dengan alat musik sungguhan. Pastikan kita punya salinan lengkap dari setiap part aransemen kita.

Bagian ini sangat pelik karena proses mengubah midi/sheet music menjadi rekaman performance adalah proses yang sangat kompleks dan sulit untuk direka ulang. (Bayangkan berusaha untuk menciptakan kembali feel solo gitar 3 tahun yang lalu!). Pengaturan knob alat musik virtual, pengaturan knob alat musik beneran, semuanya sama-sama sulit dicatat.

Solusi terbaik yang saya pikirkan, adalah abaikan semua kebebasan yang muncul dikarenakan teknologi modern, dan rekam saja semua performance menjadi audio, dalam format PCM wav dengan bitrate dan sample rate tertinggi yang diijinkan oleh hardisk-mu.

Rekam menjadi audio multi-track, and call it a day. Sudah.

Lupakan mimpi untuk bisa buat ulang lagi.

(Kecuali ke depannya muncul format proyek DAW standard yang interoperable. Tolong beritahu saya kalau kamu tahu)

Terimakasih sudah membaca.