Musim ini ada anime unik yang secara tak terduga membuat saya tertarik menonton sampai episode 9. Dia adalah Peach Boy Riverside. Kisah Momotaro klasik yang diberi twist baru.
Perbedaan dengan Dongeng Klasik Momotaro
Bagi yang belum pernah dengar, Momotaro adalah dongeng klasik dari Jepang di mana sepasang kakek nenek yang tak memiliki anak menemukan seorang bayi di dalam buah Momo (peach, apalah itu bahasa Indonesianya) yang terhanyut di sungai. Momotaro tumbuh besar menjadi seorang pendekar yang kemudian pergi membasmi gerombolan Oni (seperti gendruwo yang suka makan manusia).
Cerita ini punya banyak versi, tapi garis besarnya kira-kira begitu. Pada iterasi modern di anime ini kita mendapatkan ide baru: bagaimana kalau buah momo yang terhanyut ternyata ada lebih dari satu?
Kita mengikuti perjalanan dua orang pendekar pembasmi Oni: Mikoto dan Sally. Mereka bepetualang sambil bertemu berbagai teman dan lawan. Cerita di sini lebih banyak diceritakan dari sudut pandang Sally, dengan Mikoto sebagai tokoh pemberi kontras.
Frau
Saya datang dengan skeptis, karena sekilas dia terlihat seperti mengikuti formula shounen. Tapi kemunculan karakter berwujud kelinci berseragam sailor bernama Frau mengusik indera saya, memberi pertanda adanya kualitas tinggi yang tersembunyi dalam anime ini.
Keberadaan Frau di episode pertama memberikan nuansa misterius yang menggelitik. Proses pengenalan Sally dan interaksinya dengan Frau di menit-menit awal juga menjaga diri dari membeberkan terlalu banyak kepada penonton.
Tapi yang paling penting adalah desain visual Frau yang membuat dia sangat cocok dijadikan maskot terbaru dari Sanrio atau semacamnya.
Serius. Frau ini lucu sekali.
Tapi terlihat sekali dia bukan hanya untuk lucu-lucuan saja. Kita harus lihat nanti bagaimana karakter dia dikuak.
Episode Tidak Urut
Satu yang membuat penceritaan anime ini menarik adalah arahan episodenya. Episodenya tidak ditayangkan secara kronologis. Buat beberapa orang, metode ini akan membuat penonton bingung dan merasa tidak nyaman. Ini hal yang lumrah.
Tetapi buat saya ini adalah salah satu keunggulan. Penceritaannya jadi spicy dan bikin penasaran terus. Karena mereka tidak terkekang oleh urutan waktu, mereka tidak perlu terperangkap dalam tekanan untuk membuat cliffhanger di setiap episode, yang terkadang malah menyebabkan perpindahan ke arc baru jadi hambar dan melelahkan.
Dengan kata lain mereka bisa dengan bebas memiih fakta mana yang dibeberkan dulu, dan mana yang disimpan untuk nanti. Resep pamungkas untuk memaksimalkan daya tarik bagi penyuka kejutan.
Karakterisasi dengan Formula Segar
Selain penceritaan yang memaksimalkan kejutan, otak saya juga di luar dugaan tidak bisa mengkotakkan kepribadian karakter-karakter di sini ke dalam cetakan yang umum. Ini membuat perilaku mereka jadi sedikit susah ditebak.
Misalnya Frau, saya kira dia dibingkai sebagai karakter underdog yang sebenarnya kuat. Ternyata dia jauh lebih lemah daripada Sally, dan peranan utamanya lebih ada di memberi Sally sudut pandang pertemanan dengan Demi-Human.
Atau mungkin Hawthorn, ksatria penjaga kota yang saya kira memiliki sifat mengayomi. Ternyata dia digambarkan dengan lebih santai, dipadu dengan sedikit bijak-cerdik.
Hal yang sama juga ada di karakter lain seperti Mikoto, para antagonis, dan juga para karakter pendukung lain.
Kesimpulan
Peach Boy Riverside adalah anime unik season ini yang memberi twist terhadap legenda klasik Momotaro. Struktur seri yang berani dan karakterisasi yang tidak terkotak-kotak membuatnya jadi tontonan segar buat saya di musim panas 2021 ini.