Potongan ilustrasi dari anime Maquia
Beberapa minggu sebelumnya, saya melanjutkan menonton anime "Shiki" yang dulu sempat berhenti nonton saat musim tayangnya dulu. Oh, luar biasa. Saya tidak menyesal sama sekali. Shiki ternyata adalah salah satu anime yang mampu menggambarkan cerita vampir dengan cantik dan mendalam. Salut.
Separuh akhir cerita di Shiki menuju klimaks adalah perjalanan yang penuh refleksi terhadap sifat-sifat dasar manusia. Intens dan menghenyakkan. Menyelesaikan Shiki membuat saya merasa "edgy", perasaan lumpuh mental yang sering terjadi ketika kita menamatkan suatu cerita yang bagus, perasaan yang membuat kita tidak bisa beranjak dari memikirkan cerita tersebut selama berhari-hari dan membuat kita berusaha mencari-cari cerita lain yang bisa memberi kepuasan yang sama.
Ono Fuyumi
Alangkah terkejutnya saya ketika mengetahui kalau ternyata penulis Shiki tiada lain adalah Ono Fuyumi, penulis franchise 12 Kingdoms (十二国記, Juuni Kokuki). Yang dulu sempat diadaptasi menjadi anime sepanjang 50an episode di tahun 2002.
Ono Fuyumi sebagai penulis memiliki akar dalam cerita horor. 12 Kingdoms dulu sebenarnya bermula dari sebuah novel one shot berjudul Mashou no Ko (魔性の子, kurang lebih: Anak Jahanam), sebuah novel yang bercerita tentang anak terkutuk yang senantiasa membawa nasib buruk pada orang-orang sekitarnya. Ia lalu mengembangkan novel itu menjadi dunia yang sangat mendetil dan luas, menjadi basis panggung cerita dalam seri novel 12 Kingdoms. Para fansnya sering membandingkan dunia 12 Kingdoms dengan Tolkien sebagai "Middle Earth-nya Jepang".
(Catatan: 12 Kingdoms ini termasuk yang kita sering sebut sebagai cerita isekai).
Setali benang merah yang bisa ditarik dari Mashou no Ko, 12 Kingdoms, dan Shiki, adalah bagaimana cerita-cerita ini berpusar dalam kerumitan dan ke-banyak-bidang-an emosi manusia. Jumlah karakter yang sangat berlimpah, memberi lahan yang luas bagi Ono Fuyumi untuk menjabarkan bermacam-macam manusia. Dengan segala paduan interaksinya.
Satu kelihaiannya yang harus saya acungi jempol adalah bagaimana dia bisa menggenjreng senar hati pemirsa dengan archetype gamblang tanpa ada satupun karakternya yang terjebak dalam satu dimensi. Cukup kompleks sampai kita akan selalu akan bilang "ya, saya terbayang manusia yang sifatnya seperti ini memang ada", tetapi dalam saat yang sama beresonansi dengan insting kita layaknya reaksi emosi fitrah yang mentah dan mendasar. Berimbang dalam kompleksitas dan efektifitas.
Okada Mari
Sehabis menonton shiki, saya teringat satu film anime yang membuat saya merasa "edgy" juga. Film itu adalah "Maquia, When the Promised Flower Bloom".
Film ini bercerita tentang arti menjadi seorang ibu. Yup, cerita tentang motherhood. Kita dipaparkan dengan sederetan tokoh yang memberikan sudut pandang terhadap peran keibuan diintip dari berbagai niatan, berbagai situasi, berbagai latar belakang.
Dan sungguh saya tidak bisa mengukur bagaimana kompleksnya perbedaan-perbedaan kecil tersebut bisa menimbulkan dampak besar. Ditambah lagi dengan masalah bagaimana cara menjabarkannya dalam sebuah screenplay/storyboard secara efektif. Sekali lagi, dengan tujuan untuk menyentuh hati penonton, kalau penonton tidak tersentuh hatinya, semuanya akan terbuang percuma. Dan hasilnya benar-benar efektif karena saya masih sering berkaca-kaca kalau mendengar lagu ending creditsnya sambil mengingat ceritanya.
Naskah Maquia ditulis oleh seorang sosok yang belakangan mulai naik daun dalam dunia anime. Dia adalah Okada Mari, yang sebelumnya melejit terkenal dengan naskahnya untuk "AnoHana, The Flower We Saw That Day", "Hanasaku Iroha", dan "O, Maidens in Your Savage Season".
Kecerdasan emosi ini tak hanya terbatas dalam topik-topik yang "ngefeels" atau mengharukan. Dalam "O, Maidens in Your Savage Season", Okada Mari melakukan akrobat dalam penuturannya menjabarkan topik seksualitas dari sudut pandang remaja. Mengapa saya sebut akrobat? Karena topik ini penuh jebakan ranjau di mana kamu dengan gampang bisa jatuh jadi cerita mesum yang murahan, atau paling tidak jadi cerita yang tidak aman dikonsumsi keluarga.
Akrobat, karena tidak hanya dia berhasil tidak menginjak ranjau, tapi juga berhasil menyampaikan topik yang punya banyak bidang tersebut secara efektif layaknya Ono Fuyumi tadi. Bonus lagi, dia juga masih sempat membungkusnya dengan komedi kocak. Sudah semacam akrobat lapis tiga.
Dua penulis ini mempertunjukkan kemampuan yang hebat dalam instrumentasi emosi. Sebuah akrobat yang tidak bisa saya bayangkan caranya. Dan kebetulan dua orang ini adalah wanita.
Apakah ini kebetulan?
Saya kemudian berusaha melihat dalam anime-anime terbaru (dan sebagai perpanjangan alaminya, manga dan light novel juga) lain yang berkualitas. Saat dilihat dari lensa seperti ini, saya teringat beberapa judul. Di antaranya adalah: "Ascension of a Bookworm", "Otoyomegatari", "Arte", dan "Sing me 'Yesterday'".
Cerita-cerita tersebut juga memiliki kualitas (bukan dalam artian hebat, tapi dalam artian kata benda yang merujuk ke sifat) yang sama dengan yang saya jabarkan di atas.
Dan semuanya ditulis oleh wanita.
Bahkan kalau kamu ingat, Inuyasha juga ditulis oleh wanita.
Saya tidak bisa membayangkan ada penulis laki-laki yang bisa melakukan ini. Penulis laki-laki hebat dalam menguntai kompleksitas dalam bidang lain, seperti politik, taktik dalam kompetisi, (ingat perasaan terpukau dengan kelihaian tokoh utama dalam cerita shounen? Atau manuver politik dalam cerita perang seperti Gundam?). Kompleksitas emosi bukanlah forte laki-laki.
Lalu bagaimana dengan segala cerita cinta yang ditulis oleh laki-laki? Itu, 5 cm per second ditulis oleh Shinkai Makoto, seorang laki-laki? Yah, saya memang tidak bilang cowok tidak bisa menulis cerita yang mengedepankan emosi seperti cerita cinta. Melainkan saya berpendapat bahwa sulit bagi laki-laki untuk berakrobat dengan penuh kelembutan di sini. Cerita cinta tidak serta merta pasti kompleks. Seringnya "hanya" perih saja, hehehe. Apalagi kalau kamu tidak bisa dapat ceweknya.
Satu perkecualian di sini, mungkin adalah Maeda Jun, penulis game-game bergenre "air mata" dari penerbit Key.
Tapi Maeda Jun harus membayar mahal dengan badannya yang rusak sakit-sakitan karena terlalu setres saat melakukan akrobat emosi ini (baca: terlalu sensitif hatinya). Saya rasa itu tidak bisa dianggap sebagai contoh yang bagus.
Jadi apa kesimpulannya?
Yaa, saya sangat bersyukur sekali para penulis wanita ini mampu menggunakan bakatnya untuk melahirkan karya yang mendalam. Bukan hanya sekedar penyegar bagi keringnya emosi yang mendalam dalam medium wibu, tapi juga sebagai rujukan standar bagi penulis lain agar bisa dilampaui. Laki-laki dan perempuan, semuanya bisa belajar dari sentuhan lembut penulis-penulis ini.