Aku pertama kali nonton Golden Time persis saat dia keluar tahun itu. Aku enjoy nontonnya dan dia termasuk satu anime yang aku anggap bagus. Bahkan aku sempet kover lagu ending pertamanya.
Di tahun 2019 ini aku mutusin untuk mengunjungi kembali anime ini. Tonton kebut 2 cour dalam 4 hari. Dalam nonton ulang ini aku nemu banyak sekali hal yang aku ga notis waktu pertama kali nonton dulu. Hal ini menarik jadi aku berusaha merangkum pikiran ku.
Nama Golden Time
Nama Golden Time ternyata juga jadi nama restoran izakaya yang sering dipakai party oleh anak kampus situ. Kin no Toki. Dulu aku ga perhatiin, jadi ga notis.
Aku curiga jangan-jangan ini nama restoran beneran ada dan sering dikunjungi penulisnya. Bisa jadi.
Tempat Kerjanya Oka-chan Super Elit
Di episode 11, Oka-chan diberitakan kalau dia kerja part-time di sebuah kafe di Daikanyama.
Sebelumnya aku sama sekali ga tau. Area Daikanyama di Jepang ternyata terkenal sebagai area yang sangat trendi, stylish, dan elit. Pokoknya wilayahnya horang kaya. Banyak ekspatriat karena banyak dubes berbagai negara naruh kantor di situ.
Waktu mereka mengunjungi kafe tersebut, sempat digambarkan bagaimana para tokoh terngangah melihat ada om-om yang kayaknya pebisnis ngobrol santai dan terlihat sangat elit.
Aku ga akan notis referensi budaya begini kalau waktu itu ga diajak istriku jalan-jalan di Daikanyama buat liat-liat. (Liat-liat doang, ga masuk kafenya lol). Jangankan notis, pasti scene kayak begini akan kelewat tanpa tau apa signifikansinya.
Keseimbangan Realisme dan Klise
Satu lagi hal yang aku ga notis waktu nonton pertama dulu adalah betapa realistis penggambaran kehidupan kampus di dalam Golden Time. Walaupun dia lumayan banyak pakai klise-klise anime, nuansa kampus dan tataran sosial kegiatan ekstrakurikuler bener-bener bisa terasa di kulit.
Bagaimana mereka bingung milih mata kuliah, bagaimana senior-senior sibuk ngajakin masuk klub, bahkan sampai bagaimana anak maba di jepang rawan banget kena pengaruh cult-cult aneh. Tercermin nuansa yang nyata, ga seperti anime umumnya yang cuma mengedepankan satu sisi doang dari hidup para tokohnya. (Contoh paling hebat dalam hal ini misalnya Genshiken)
Kaga Kouko, si Gadis Poster
Banyak banget yang pengen aku omongin soal Kaga Kouko. Walaupun secara selera cewek dia ga masuk tipeku. Tapi gabungan dari tiga hal di bawah ini merebut hatiku.
- Fashion sense
- Kekuatan ekspresi Horie Yui
- Kekonyolan yang tiada tara.
Liat, konyol kan? Tapi cakep bajunya. Bener-bener poster girl, dia memonopoli semua gambar di opening 1 dan 2.
Ternyata Ga Terlalu Sinetron
Genre utama Golden Time memang drama. Dan dulu aku ngerasa dia kadang terlalu sinetron, terutama di sekitar episode 15-20. Tapi setelah nonton untuk kedua kalinya ini, aku merasa segalanya jauh lebih dekat dengan realitas daripada yang aku kira.
Penyebabnya, mungkin, karena aku sudah sedikit lebih dewasa dibanding waktu nonton pertama kali dulu. Aku sekarang jadi bisa melihat jalan pikiran karakter-karakternya dengan lebih jernih. Bisa lebih memahami bagaimana rasanya mengemban masalah-masalah itu.
Contohnya, aku bisa jadi lebih apresiasi betapa kerennya bapaknya si Kaga Kouko. Betapa dia orangtua yang sangat bertanggung-jawab dan berinteraksi dengan penuh cinta/disiplin terhadap anaknya.
Penulisnya Paham Betul Tentang Relationship
Ini juga salah satu sisi yang aku rasa jadi lebih paham karena sekarang aku jadi sedikit lebih dewasa (dan punya pengalaman hubungan romantis).
Aku sekarang jadi bisa ngikutin proses psikologi gimana karakter-karakter di situ bisa jatuh hati sama pasangannya. Dan terus terang, aku bisa bilang penulisnya jago banget menggambarkan semua proses psikologi itu secara halus dan ga eksplisit.
Dan mungkin bukan cuma penulis novelnya, tapi juga kru-kru animenya, terutama penulis storyboard. Karena hal-hal ini cuma digambarkan dalam skala ekspresi wajah karakter. Salut sekali sama perhatian yang sangat dalam terhadap detil dan subtlety.
Akhir Kata
Nonton ulang anime yang pernah kita tonton kadang menunjukkan banyak hal menarik tentang diri kita. Seberapa jauh kita membuat kemajuan dalam hidup, seberapa kita sudah bertumbuh, apa saja yang sudah kita lalui.
Kita bukan lagi kita yang dulu. Nilai-nilai yang kita anut sedikit banyak akan berubah. Apa yang kita anggap penting, apa yang kita sukai/benci, akan senantiasa berevolusi.
Kalau ada waktu, silahkan dicoba. Cek seberapa jauh kamu sudah berevolusi.