Viewing: gue-banget

ponkan-irohas @ponkan_8

Ada saatnya kita merasa terwakilkan dalam sebuah fiksi. Perwakilan ini sangat penting, sampai-sampai hollywood secara keseluruhan meributkan cara melakukan perwakilan yang baik dan benar menurut versi pandangan politik masing-masing.

Terkadang membuat kita, penonton biasa, jengah dengan energi yang tersalurkan ke situ alih-alih ke dalam kualitas produksi yang semestinya bisa terus dinaikkan untuk menciptakan karya yang lebih baik. (Yep, biarkan saya curcol dulu tentang betapa jeleknya Mulan live action).

Saat kita terwakilkan dalam media, ada perasaan kuat yang memvalidasi keberadaan kita sebagai satu manusia yang utuh dan berarti. Ada banyak yang lain seperti kita. Kita tidak sendiri.

Kita bermakna.

Namun ada satu yang mengganjal dalam diri saya saat Pahlawan Super Psikologi-semu Hikigaya Hachiman menggebrak medsos dan menimbulkan gelombang "GUe BaNgeT" beberapa tahun yang lalu (yang lalu diikuti oleh serial sejenis seperti Ayanokoji Kiyotaka dan Azusagawa Sakuta).

Singkat kata, Hachiman ini bukanlah jenis manusia yang patut diteladani.

Kita bisa bergumul dalam kubangan dan adu ide tentang bagaimana kejelekan karakter bisa membuat sebuah karakter jadi bagus karena dia jadi multidimensi, atau bahkan bagaimana karakter-karakter seperti ini bisa membuat kita menjadi lebih bangga dengan apa yang kita miliki walaupun kita punya banyak kekurangan. Dan juga mungkin kita bisa sanggah dengan menunjukkan bagaimana Hachiman termasuk sangat cerdas dan seorang problem solver yang handal, yang tentu saja saya setuju dengan semua itu.

Tapi 100% orang yang bilang "GuE BaNgeT" di sini semuanya cuma relate sama sisi buruk. Saya jamin.

"GuE BaNgeT" sebenarnya bukan sebuah kalimat yang membanggakan.

Lebih jauh lagi, saya harus bilang, menurut saya Hachiman tidak pernah dibingkai sebagai pemenuhan fantasi. Tapi sebuah self-critique dari sang penulis.

Menyelipkan diri sendiri (atau paling tidak, bagian dari diri sendiri), tapi kemudian dikritik melalui bingkai karakter lain. Sebuah essai panjang tentang penyesalan dan introspeksi tentang bagaimana seharusnya seorang manusia bertindak-tanduk. Sebuah pesan dari penulis yang sudah dewasa terhadap kebodohannya di masa muda.

Karena itu, bisa dibilang mengatakan "GuE BaNgeT" di sini mirip seperti membongkar aib sendiri, lalu bangga terhadap aib tersebut. Seolah itu adalah piala yang bergengsi.

Ga, ga ada gengsinya.

Kalau kamu ingin membingkai ke-Superhero-an Hachiman sebagai sesuatu untuk diteladani, saya ada kabar buruk. Metode itu akan menghancurkan mentalmu sebelum kamu sempet mengicipi kedewasaan. Kalau kamu benar-benar baca/nonton, pasti kamu sudah tahu itu. Sudah banyak contohnya, karena cerita ini self-aware.

Pembingkaian yang benar menurut saya adalah pembelajaran bagi kita untuk senantiasa berusaha tumbuh sebagai manusia. Katakan "Gue Banget" dengan semangat untuk jadi manusia lebih baik ke depannya.

Selamat belajar!