Dibuka dengan sebuah siaran radio langsung dari hutan di Hokkaido, Nami yo Kiitekure langsung menggenggam perhatian kita dengan atmosfir yang imajinatif. Dingin udara malam dan lampu jalanan kota di kejauhan membuatmu merasa ingin minum kopi hangat dari cangkir logam. Layaknya pendaki gunung ijen yang menanti datangnya fajar.
Penyiar radio itu sedang membaca surat pendengar. Menggebu-gebu dan emosional, dia mengomentari surat-surat itu satu persatu. Lalu, tiba-tiba, entah dari mana datangnya, dia berpapasan dengan seekor beruang.
Dia mempertimbangkan apa yang akan dia lakukan, lalu akhirnya dia bertarung dengan beruang tersebut sambil memberikan saran hidup pada pendengarnya. Sungguh pertarungan antara hidup dan mati.
Itulah cuplikan beberapa menit pertama dari anime ini.
Monolog Superwoman
Pernahkah kamu menonton film yang hampir 100% durasinya dikontrol oleh satu orang aktor? Misalnya Sandra Bullock di Gravity, atau Tom Hanks dalam Castaway.
Anime ini 70% bergantung kepada kemampuan karakter utamanya untuk memberikan monolog tanpa henti dengan kecepatan fantastis. Terakhir kali aku melihat kepadatan naskah monolog seperti ini adalah di Bakemonogatari.
Bisa dibilang pesona utama anime ini adalah kemampuan aktris suara ini memberondong kita dengan bacotan tanpa henti tanpa ada selip barang sekalipun.
Bukan hanya itu, melihat bagaimana jalan pikirannya bisa melompat kesana-kemari dan tetap koheren sangat memuaskan untuk didengar. Sebuah pengalaman aural yang berharga, setara dengan pengalaman mendengar deretan umpatan kawan kita yang berasal dari Surabaya saat dia bisa meluncurkan kata-kata ejekan yang imajinatif dan tak bisa ditebak dari mana datangnya.
Inspiratif dan memuaskan.
Narasi Humanis yang Jujur dan Membumi
Dalam scene-scene berikutnya kita mengikuti perjalanan karakter utama menjadi penyiar radio. Awalnya dia adalah seorang pegawai di sebuah restoran kare. Lalu bertemu dengan seorang produser radio di suatu bar yang melihat bakatnya.
Seorang wanita umur dua puluhan yang galau dalam menjalani hidup. Antara kehidupan cinta dan karirnya yang tak jelas. Kita bisa melihat cerminan hidup keseharian warga urban yang membumi.
Kamu kira anime ini kelam dan depresif? Tidak sama sekali.
Kepribadian karakter utama yang meledak-ledak dan tidak stabil memberikan dinamika yang membuat perjalanan menonton anime ini menyenangkan dan lucu. Secara penyutradaraan, semua rasa kelam itu jarang dilepas ke permukaan secara langsung.
Konflik-konflik yang disajikan selalu membumi dan dekat dengan keseharian. Beberapa orang mungkin akan menganggap konflik-konfliknya terlalu datar dan hambar. Tapi saya berpendapat kalau konflik-konflik ini memberikan pengaruh besar pada karakter, kita tidak bisa tidak, harus percaya kalau konflik itu signifikan.
Konflik hidup kita sehari-hari memang tidak pernah besar. Manusia tidak hidup dalam sebuah melodrama atau sinetron yang segalanya serba bombastis. Walau denmikian, setiap konflik yang kita hadapi selalu membuat kita tumbuh, dan dan menjadi manusia yang berbeda setiap kali kita melewati kesulitan tersebut.
Anime ini membawa narasi yang seperti itu.