Viewing: what-do-you-want-to-make

vsauce-michael

Tadi malam saya bermimpi.

Dalam mimpi itu saya bertemu dengan seseorang yang mukanya mirip dengan Michael dari Vsauce. Tapi di sini dia sepertinya adalah seorang youtuber wibu, bukan sains. (Pasti karena saya belakangan kebanyakan nonton Trash Taste)

Kita mengobrol tentang hobi kita, lalu dia bertanya tentang pekerjaan saya di sebuah perusahaan manufaktur. Setelah saya jawab, dia bilang:

"I guess I don't need to ask then, what do you want to make?"

"What do you want to make?"

Lalu saya terbangun.

Mengejutkan sekali bagaimana pertanyaan ini sangat membuat saya terhenyak. Seolah-olah pertanyaan ini tersembunyi di balik karang, mengintai, tanpa pernah menunjukkan wujudnya selama ini. Tapi ternyata dia menunggu saat yang tepat untuk keluar dan menyadarkan saya kembali dengan pukulan keras.

Keesokan paginya saya lalu mencari di mesin pencari internet: "what do you want to make?" dan ternyata ada sedikit koreksi, mestinya "what do you want to create?". Dan ternyata sudah ada yang menulis buku dengan judul yang mirip. Otak cocoklogi saya berasa dapat mimpi cenayang.

Saya sudah tahu seberapa pentingnya kegiatan kreatif bagi saya. Karena sudah jadi semacam motto bahwa hidup itu untuk menciptakan sesuatu. Dan saya merasa paling bahagia saat sedang dalam proses kreatif.

Pertanyaan ini sangat sederhana, tapi susah sekali untuk dijawab. Tidak semua yang kita ingin ciptakan bisa terwujud. Karena waktu, uang, atau energi itu terbatas.

Selain itu, ada batasan tentang apakah sesuatu itu berguna atau tidak. Adakah orang yang merasakan manfaatnya. Sedikit banyak ternyata saya merasakan tekanan untuk membuat sesuatu yang bermanfaat.

Tapi kalau dipikir lagi, batasan-batasan di atas hanyalah keraguan dari saya untuk terjun. Optimisasi sumber daya dan pemanfaatan adalah hal bagus, tapi kalau akhirnya tidak ada yang dilakukan ya percuma. Kasarnya ya, terlalu banyak mikir, kenapa ga dilakukan saja.

Just do it!

Gitu.

Karena hidup itu pendek.

Lagipula, proses kreatif tidak selalu perlu dibarengi dengan kegiatan ekonomi (baca: bisnis dan cuan). Apalagi bagi seseorang yang sudah memilih untuk kerja full time di luar passion utama seperti saya.

Ya jatuhnya memang tinggal permasalahan klasik segitiga energi, waktu, dan uang.

Belakangan saya merasa pekerjaan mulai menggerogoti waktu dan energi yang bisa saya pakai untuk mengerjakan suatu proyek kreatif. Tapi saya tidak mau menyalahkan pekerjaan 100% karena manajemen waktu dan perencanaan saya juga lemah. Yang mana menurut saya ini faktor yang lebih besar.

Sebut saja mid-life crisis. Whatever.

Jadi, saya akan berusaha bersentuhan lagi dengan nilai-nilai yang saya anggap penting ini.

Sambil bertanya terus:
Mau bikin apa hari ini.

To be extended....