Viewing: tiga-jam-pertama-2022

Penghujung akhir tahun 2021 saya lewati bersama teman-teman seperjuangan. Kami menyewa sebuah rumah kecil dengan kapasitas 9 orang untuk sehari semalam. Kita berkumpul dan berpesta sambil ngobrol dan makan, ditambah sedikit tontonan film lawas dari Netflix. Bagi saya yang cenderung tidak terlalu suka hingar bingar rencana ini cocok sekali.

Sehabis 00:00 terlewati, beberapa dari kita pamit tidur. Tapi tentu saja, ada obrolan yang tidak bisa selesai begitu saja. Karena 4 orang berbasis wibu berkumpul, kita tidak bisa melewatkan kesempatan ini. Saya berpartisipasi dalam obrolan para wibu sampai jam 3 pagi, yang mana setelah itu baru saya pamit untuk tidur.

Ada sedikit rasa sepi yang berhasil terlipur dalam beberapa jam itu. Terasa juga betapa kebersamaan ini sangat berharga. Saya sangat bersyukur kenal orang-orang ini. Kalau bisa saya ingin menjaga pertalian ini tetap terjaga.

Selain pemenuhan kebutuhan sosial, saya juga mendapatkan sesuatu yang tak kalah berharga. Yaitu dorongan untuk kembali berkarya.

Yang saya suka dari lingkungan wibu adalah betapa kita sangat dekat dengan kegiatan kreatif. Karena pada dasarnya kita ini manusia-manusia yang peka terhadap kualitas tertentu dari media audiovisual yang kompleks. Semua penikmat seni punya potensi besar menjadi seniman itu sendiri.

Dan memang luar bisa. Teman-teman saya kebanyakan punya deretan karya yang patut dibanggakan. Bahkan di sela-sela kesibukan pekerjaan dan keluarga, mereka sempat menciptakan sesuatu. Kalau 2-3 tahun lalu saya mendengar cerita seperti ini, biasanya saya akan merasa terpuruk karena iri. Namun, kai ini, bukan rasa iri yang muncul dalam hati. Melainkan perasaan tidak mau merugi.

Hidup saya masih panjang. Mungkin.

Tapi bisa jadi dua detik kemudian sudah tak ada lagi bekas saya di muka bumi ini. Apa iya saya rela membiarkan sisa usia yang mungkin tinggal sedikit itu terbuang dalam lubang keputusasaan?

Banyak hal yang saya ingin pelajari di dunia ini. Banyak yang saya ingin lakukan. Apa salahnya menggunakan setiap detik untuk seperempat langkah? Keniscayaan tujuan bukanlah inti dari hidup. Hidup adalah perjuangan itu sendiri. Jangan pernah menyerah walau kesuksesan tidak terlihat di balik kabut ketidakpastian. Karena yang penting sebenarnya adalah kita tetap hidup dan bergerak dalam pergumulan.

Kalimat-kalimat ini terasa kosong jika dilihat dari sudut pandang orang yang depresi. Karena energi untuk berjuang itu sendiri adalah sebuah kemewahan. Tapi sebagai seseorang yang sekarang mampu melihat kedua sisi dunia ini (berkabut dan tidak berkabut), saya ajukan sebuah kunci perbedaan yang saya temukan. Yaitu: sadarilah bahwa harga dirimu tidak disetir oleh seberapa besar kesuksesanmu (kesuksesan dengan ukuran apapun). Ia juga tidak disetir oleh apa yang orang tuamu harapkan darimu (atau tetanggamu, atau bahkan orang yang ga kamu kenal).

Harga diri manusia sebenarnya intrinsik, tetap, dan sama rata.

Yang membuat orang merasa harga diri yang rendah hanyalah tidak akuratnya ia mengenali nilai-nilai yang ia junjung/anggap penting. Semakin kamu kenal dengan akurat apa yang kamu anggap penting, semakin tegas keyakinanmu bahwa kamu adalah manusia yang berharga.

Tidak peduli seberapa dekat atau jauhnya kamu dari wujud ideal, dengan mengenali hal-hal yang kamu anggap penting itu, kamu akan tahu dengan pasti langkah berikutnya yang perlu diambil. Sisanya tinggal buat rencana dan jalani, lalu berharap yang terbaik.

Buat saya... lebih baik mati sekarang daripada berhenti mengejar aspirasi menjadi nyata. Jangan menunda. Jangan hanya diam.

Lakukan sekarang. Katakan sekarang.

Image Alt Text