Hari ini saya membaca dua buah artikel dari majalah Nature mengenai pengembangan iptek di negara berkembang. Yang satu adalah wawancara terhadap menteri iptek Rwanda, dan yang satu adalah kolom yang ditulis seorang reporter sains di Jakarta. Di situ dijelaskan, bagaimana kegiatan sains dan teknologi dari dasar adalah syarat wajib untuk perkembangan ekonomi yang signifikan.
Saya tidak bisa tidak, mengingat kembali bagaimana masyarakat Indonesia pada umumnya selalu menjadi pengadopsi teknologi yang sudah terindustrialisasi. Kita punya banyak pabrik, banyak montir, banyak ahli reparasi, perakitan komputer, operator server, dan sebagainya. Ini semua adalah orang-orang yang bergelut di industri yang sudah mapan.
Untuk ukuran adopsi pada tahapan ini pun sebenarnya tingkat keahlian teknisi di Indonesia sangatlah tinggi. Bahkan praktisi-praktisi yang hanya sebatas bisnis pribadi biasanya memiliki pengetahuan tentang industri yang cukup tinggi (paling tidak sebatas yang saya lihat). Sehingga tidak bisa dibilang kalau negara kita kekurangan orang-orang pintar untuk memahami teknologi dan sains.
Alasan yang paling besar atas kecenderungan pola adopsi ini, menurut saya, adalah karena teknologi yang sudah terindustrialisasi dan mapan sudah punya pasar yang terbukti. Sudah jelas teknologi itu membawa dampak ekonomi yang besar. Istilahnya pengadopsi teknologi di Indonesia itu senantiasa melihat supply dan demand pasar lalu bergerak berdasarkan apa yang sedang diminati masyarakat. (Walau itupun kebanyakan masih merupakan anak perusahaan dari perusahaan asing).
Dari situ mungkin bisa dibilang, masyarakat kita pada dasarnya adalah pedagang. Pedagang itu selalu membeli sesuatu lalu menjualnya kembali untuk mendapatkan untung. Jadi pedagang akan selalu perlu barang yang sudah ada untuk dibeli. Di sisi lain, teknologi adalah pengetahuan tentang cara menciptakan barang yang berguna, dari barang yang tidak terlalu berguna. Dan itu, memerlukan kreatifitas yang tinggi serta pengetahuan tentang cara membuatnya. Dan itu ada di luar ranah dagang.
Apakah masyarakat kita tidak cukup kreatif? Saya rasa tidak. Karena selain dagang, masyarakat kita juga punya kemampuan seni dan inovasi yang tinggi. Ingatlah betapa banyak usaha-usaha kecil menengah di Indonesia yang tak ada habisnya, terutama di sektor usaha makanan. Seni memasak, seni membuat baju, seni dekorasi, percetakan, dan sebagainya juga merupakan bidang yang sangat penting secara ekonomi mikro di Indonesia. Jadi bisa disimpulkan, biang permasalahannya bukan pada kreatifitas, tetapi pada pengetahuan tentang cara membuat.
Yah, sampai sini sebenarnya siapa saja bisa menemukan kesimpulannya. Lalu bagaimana cara kita mengetahui cara membuatnya? Dulu pernah kita sering degar jargon "Transfer Teknologi". Itu tidak akan pernah terjadi. Kalau itu terjadi, berarti teknologi itu sudah kuno, dan adopsi di tahap itu tidak akan ada artinya. Yang seharusnya kita lakukan adalah membangun pengetahuan tersebut dari dasar.
Dulu waktu kecil saya sering penasaran. Kalau alat pabrik diperlukan untuk membuat barang-barang sehari-hari kita, bagaimana caranya membuat alat-alat pabrik itu? Lalu pertanyaan ini akan terus berulang secara tak hingga sampai titik di mana saya bertanya, bagaimana cara kita membuat "perkakas" pertama kita? Terbayang tentunya perkakas ini haruslah bisa kita buat hanya dengan tangan kita tanpa menggunakan alat lain.
Kalau seandainya seluruh perkakas di dunia ini hancur seketika, bisakah kita membuat semuanya lagi dari nol? Pendekatan inilah yang seharusnya kita gunakan. Tentunya dengan batas tertentu, karena secara realistis di jaman ini hampir semua barang adalah hasil produk beberapa negara, tapi tahulah ya maksud saya. Intinya ada di cara pendekatan.