Keluargaku bukan keluarga kaya. Cuma menengah biasa. Tapi ortuku memutuskan untuk sekolahkan aku di SD yang memang agak pinggiran dan relatif dekat rumah.
Yang aku amati kalau mengingat lingkungan semasa kecil dulu. Ntah kenapa empat hal berikut ini seolah2 dianggap punya korelasi.
- Pribumi - Keturunan.
- Islam - Kafir.
- Miskin - Kaya.
- Jelek - Cantik/Ganteng.
Semua orang ga ada yg bilang blak-blakan, tapi terasa dalam hati orang2 sekitarku banyak yang mikir begini. Tentu saja korelasinya nggak mutlak 100%. Tapi cukup jelas untuk bikin jurang sosial dan stereotip.
Dan sedihnya, jurang sosial ini terkadang hampir terasa secara fisik. Efeknya bikin interaksi antar golongan berkurang dan itu makin memperparah keadaan. Ga pernah ketemu. Mau saling paham gimana?
Oke mungkin logis lah ya kalau ortu yg kaya ga mau anaknya main sama anak miskin. Milih tinggal di area perumahan elit yang terlindungi dan swasembada. Ga perlu ke luar. Aman. Lagian banyak juga rakyat jelata yang memang punya niatan buruk terhadap orang yang punya. Tapi jadinya ini bikin cakrawala sempit.
Untungnya hal ini ga bertahan lama buatku. Selepas aku lulus SMP dan masuk SMA, keberagaman mulai merayap masuk ke lingkup sosialku. Begitu masuk kuliah, aku udah sering ketemu dengan berbagai macam lapisan orang dari penjuru Indonesia. Hal yang bagus. Dan aku merasa bersyukur bisa dapat pengalaman untuk membuka mata terhadap pandangan hidup dari beraneka ragam manusia dari berbagai golongan dan lapisan.
Tapi aku teringat lagi di zaman SD. Pengalaman di zaman itu sangatlah nyata. Tidak bisa dipungkiri masyarakat yang terkotak-kotak itu memberi pengaruh buruk. Apalagi buat otak anak kecil yang gampang percaya.
Gak selalu tentang ajaran orang tua lho ya. Menurutku sih komunitas punya peranan yang lebih besar dari sekedar unit keluarga dalam hal ini. Seperti yang kubilang tadi. Aku yang masih kecil aja bisa mencerap perasaan komunitas yang terbagi-bagi itu. Kebayang kan, berapa banyak anak yang tumbuh besar mempercayai hal-hal negatif tentang kaum sebelah? Walaupun sudah besar bisa jadi kepercayaan masa kecil itu sulit untuk dibersihkan.
Rasa was-was dan tidak percaya, perasaan asing walau selalu masuk mata. Dekat tetapi tidak pernah akrab. Saya sendiri bukan orang yang gampang bergaul dengan orang lain, jadi tahu betul bagaimana perbedaan pandangan hidup bisa membuat kita kesulitan ngobrol sama orang yang pandangan hidupnya berbeda.
Tapi apakah itu menjadi alasan buat kita untuk tetap selalu curiga dengan kaum yang berbeda?
Satu contoh penting yang saya sangat sesalkan adalah saya nggak pernah bisa berani dengan santai, dengan nyaman, dengan tanpa canggung masuk dan makan di restoran masakan cina.
Terus terang penasaran dan pingin. Tapi stigma dan rasa was-was, ditambah dengan rasa "apa tingkah saya tidak kelihatan aneh?", "apa cara pesan saya sudah benar?", "apa saya bakal tahu nama-nama menunya?", perasaan ga nyaman sejenis ini bisa diperkirakan akan menerpa saat duduk di dalam. (Atau cuma karena saya canggung secara sosial, ga tau lagi).
Perasaan ini secara umum adalah perasaan yang muncul saat kita dikelilingi oleh sesuatu yang kita tidak terbiasa. Saya yakin banyak yang merasakan hal yang mirip walau tidak sama persis, dengan intensitas yang berbeda-beda, untuk situasi yang berbeda. Dan sering karena perasaan ini tidak nyaman kita merasa pengen berontak dan marah. Saya pikir ini yg mentrigger banyak reaksi negatif terhadap golongan yang berbeda.
Tapi susahnya, nggak semua orang bisa dengan gampang keluar dari zona nyaman sosial. Karena perasaan paling beda sendiri itu ga nyaman. Kamu bisa nyoba terjun ke pergaulan kaum yang berbeda, tapi kalau setiap gerak-gerik dan pembawaanmu bikin kamu ngerasa diingetin terus kalau kamu beda, kamu ga bakal betah dan pengen keluar dari situ, baik ke tempat asal.
Soanya manusia emang sudah sifatnya untuk ingin diterima oleh sekelilingnya. Aku juga sedikit banyak begitu. Karena itu ini pe-er buar kita semua.
Terima semua orang.
Seperti apapun dia, apapun latar belakangnya.