Viewing: psyonic-club-no-1

Malam itu sedang ramai-ramainya di kelab malam milik tuan Geraldo. Dengan sinar laser dan tata cahaya gemerlap yang bergerak seiring dengan dentuman suara rendah, seluruh lantai bergemuruh konstan menyenangkan.

Tidak seperti namanya, Psyonic Club No. 1 bukanlah kelab nomer satu di San Fransisco. Tapi reputasi tuan Geraldo cukup untuk membawa banyak pelanggan setia ke sini tiap malamnya.

Tuan Geraldo adalah pebisnis properti eksentrik yang suka musik dan mengkoleksi barang antik. Kelab ini adalah salah satu bisnisnya yang cukup menguntungkan. Selain pertunjukan DJ, terkadang beberapa band lokal juga main di sini. Entah live house entah kelab malam. Yang penting orang datang beli minuman dan cari hiburan.

Beberapa orang bergoyang, tapi banyak juga yang hanya mengobrol. Jangan tanya apa yang bisa diobrolkan dalam suara latar yang memekakkan telinga begini. Tapi mungkin itu tidak masalah, karena pasti kebanyakan dari mereka datang ke sini hanya untuk minum-minum sampai pagi.

Aku? Aku tidak minum. Di tanganku ini hanyalah soda melon yang berbuih. Aku di sini hanya menikmati suasana.

Hingar-bingar keramaian punya efek menenangkan yang unik. Bagiku melihat aktifitas orang-orang tak dikenal, dipadu dengan musik yang kencang sudah bisa membuatku lupa segala perkara dunia.

"Hey girlie! We have some drink over here! How'd cha say to join us?"

Tiga meter dari kiri aku bisa mendengar suara seseorang pria gemuk besar sedang mengajak bicara seorang wanita muda yang tampak seperti awal dua puluhan. Aku tidak sadar sejak kapan wanita itu ada di situ. Aku yakin lima menit yang lalu dia belum ada di situ.

Wanita itu mengenakan hoodie putih dan kacamata hitam. Kedua tangannya masuk saku. Mengenakan celana pedek denim yang ketat dan sandal berhak tinggi, ia bersandar di tembok dengan posisi kaki yang... secara mengejutkan terlihat nyaman. Kakinya terlihat menjuntai kuat seperti peragawati yang bisa berpose selama 10 jam tanpa henti.

Impresif.

Wanita itu terlihat diam tak berbicara. Membatu tak bergeming layaknya atraksi patung hidup. Jago dan terlihat profesional, sampai-sampai aku ingin menaruh receh kalau saja dia taruh kotak uang di depannya.

Beberapa detik kemudian wanita itu akhirnya menunjukkan reaksi. Ia menggerakkan lehernya untuk memutar kepalanya sedikit ke arah lelaki itu. Gerakan yang sangat pelan.

Lelaki itu terhenyak.

"Alright girl. Alright! Yo papa'll leave ya. None of ma business."

Interaksi yang menggelitik sekali. Sebelum menghilang lelaki itu terdengar menyumpah serapah. Karena kebetulan jarak kami tidak terlalu jauh, aku berjalan sedikit mendekatinya.

Wanita ini punya aura yang kuat. Sekilas aku tidak menyadarinya, tetapi kurang dari dua meter dia sangat... mencekam. Bisa jadi karena cara berdirinya yang super kokoh. Dari jarak ini aku baru menyadari di balik hoodienya ternyata rambutnya dicat merah terang.

Aku berdiri, bersandar di tembok di sampingnya dan menyeruput sedikit soda hijau di tanganku.

Dia tetap diam mematung.

Dua menit berlalu tanpa ada perubahan.

Aku kemudian mengangkat gelasku untuk menyeruput buih soda, dan begitu bibirku menyentuh cairan di gelas, tiba-tiba dia mengeluarkan sepatah kata.

"Geraldo bilang hari ini DJ Quetza bakal tampil."

Aku tersedak kaget. Aku mengumpulkan ludah dan bertanya.

"Orang Indo?"

Dia tersenyum mengejek kecil.

"I speak many words."

NO YOU DON'T. At least you don't seem like it.

"Gua ga tau. Ga liat jadwal hari ini."

Aku memperhatikan lagi kacamata hitamnya. Aku penasaran apakah dia sedang menyamar, macam agen FBI.

"Lu ngefans sama DJ itu?" aku bertanya.

"Nggak juga."

"Jadi, cuma penasaran?"

"..."

Dentuman suara kick menggelegar mengisi kesunyian suara diam. Menyebalkan sekali orang ini. Aku merasa diremehkan.

"Ke sini sendirian?"

"..."

Dia sepertinya tak suka basa-basi.

"Mau minum? Gw traktir deh."

Beberapa detik kemudian cahaya di panggung berubah, dan sesorang yang mengenakan pakaian aneh penuh aksesori tradisional berjalan naik ke mimbar DJ. Orang-orang dekat panggung mulai bersorak menyambutnya. Tanpa berkata apa-apa dia mengubah lagu dan tiba-tiba suasana kelab menjadi jauh lebih kelap-kelip dengan irama trance.

Sesekali DJ itu mengucap beberapa kata dalam bahasa Spanyol yang seirama dengan lagunya. Aku tak mengerti bahasa Spanyol.

Sepuluh menit berlalu, satu lagu pun selesai. DJ itu kemudian turun dari mimbar dan menghilang ke ruang belakang.

Seolah bereaksi pada gerak-gerik DJ itu, wanita tadi pun beranjak dari tempat dia berdiri.

"Lu kenal sama DJ itu?" Aku berteriak, sebagai usaha terakhirku untuk berinteraksi dengannya.

Wanita itu terhenti sejenak. Lalu ia sedikit menoleh ke samping dan berucap. Lalu, seolah seluruh suara lain di di dunia terhenti sunyi, ia berkata:

"Go home now son. You're drunk."

Ia pun pergi berjalan keluar kelab. Aku di sini terperangah, tak mengerti percakapan apa yang baru saja terjadi.

Aku melihat gelas di tanganku yang sudah kosong. Mungkin dia ada benarnya.

Enam puluh dua menit kemudian, aku kembali pulang di apartemen bobrokku. Terbaring di tempat tidur, aku teringat kembali kalimat terakhir yang diucapkan wanita itu.

Mungkin aku memang mabuk.

Aku pun tertidur lelap.


Keesokan harinya aku terbangun dengan siraman matahari cerah. Aku benar-benar tak suka bangun siang hari. Membuatku sakit kepala. Untung hari ini minggu.

"Alexa, good morning"

"Good morning Dave. The sun shines like eternal today. Would you like some news?"

"No news."

"Skipping news. You have three missed calls and one voice message from Irene. Do you want to play one message?"

"Play the message."

"Playing one message from Irene."

"Hey Dave. Sori banget ya aku ga bisa ikut tadi malem. Bosku minta aku kelarin tiket dari QC sebelum senin. Minggu depan ikutan deh, kalau lu main lagi ajak-ajak ya. Next time gua ajak temen-temen yoga gua juga deh. Deal? Oke see you besok di kantor."

"Message ended. You now have zero voice message."

Aku beranjak dari tempat tidur ke wastafel. Aku membasuh wajahku dengan air dingin dan melihat ke cermin.

Muka yang sangat tidak rapi.

Aku lihat di cermin, seorang laki-laki telanjang dada yang mengenakan kalung emas dengan pahatan etnik dan hiasan batu hijau di sekujur juntaiannya. Kalung yang tidak aku kenali. Aku lepas kalung itu dan kutaruh di samping cermin.

Aku menyikat gigiku dan mengenakan pakaian seadanya. Aku lapar dan ingin segera mencari makan di luar. Saat beranjak ke luar aku mengambil kunci di atas meja.

Di samping kunci itu aku melihat secarik kertas kecil. Perlahan aku ambil dan buka. Di dalamnya terdapat tulisan tangan:

"Penampilanmu tadi malam sangat memuaskan, Dave. Temui aku lagi di awal bulan. PS. Jangan lupa bawa The Chocolate."

Aku lempar kertas itu ke meja, aku beranjak keluar apartemen dan mengunci pintu.

Mungkin aku masih mabuk.

Aku pun pergi ke jalanan di luar. Menuju kerumunan orang untuk melebur dalam keramaian transportasi kota manusia.