Seorang komentator anime tersohor, Digibro, pernah mengkritik serial anime favorit saya. Dia menyebut Oregairu sebagai "pseudo-psychology" anak remaja. Reaksi instingtif saya bergejolak. Berani-beraninya dia menghina yang saya sukai!
Tapi sedetik kemudian saya berpikir lebih jernih.
"Ya... ada benarnya sih."
Terlepas dari segala rasa suka saya terhadap serial tersebut. Saat dihadapkan terhadap fakta kalau isi ceritanya memang berkutat di pseudo-psychology anak remaja, saya cuma bisa setuju.
Yang diungkapkan Digibro adalah fakta. Bisa saya pastikan semua analisis psikologi di Oregairu hanyalah sekedar alasan bagi penulisnya untuk melayangkan komentar terhadap kehidupan anak remaja dari kacamata dia. Dengan segala propaganda dan bias pribadinya.
Walau begitu, dalam sekejap saya merasa ingin membela serial favorit saya.
Mengapa?
Satu kemungkinan datang dari perasaan ingin membela diri. Kita merasa dihina, dipertunjukkan bahwa kita salah. Kita jelek, dan harus merasa jelek karena menyukai sesuatu yang jelek.
Kita tidak suka merasa jelek. Karena itu kita marah.
Kita lalu mengemukakan berbagai alasan dan penjelasan, atau bahkan kekerasan, lisan maupun tinjuan, untuk mengembalikan harga diri kita yang sudah diinjak-injak. Tentu saja dengan sambil melakukan akrobat mental untuk mencapai kesimpulan kalau kita masih punya kehormatan.
Ini punya dua efek buruk.
Pertama, kita membiarkan kepribadian kita dibentuk oleh ketidakbenaran.
Di titik kita menyadari bahwa lawan bicara kita mengatakan hal yang benar, kita harus berani dan siap menghadapi segala konsekuensinya. Termasuk mengakui kalau kita salah. Mengubah cara berpikir kita untuk mencapai kesimpulan bahwa kita masih benar adalah tindakan yang bodoh. Apa untungnya meyakini sesuatu yang salah? Terlebih saat hati terdalam kita juga mengakuinya.
Kedua, kita membiarkan harga diri kita semakin terpuruk karena tunduk terhadap tekanan sosial yang semu.
Semu, karena sesungguhnya tidak ada yang benar-benar peduli dengan selera atau pandangan hidup kita. Strata sosial, walaupun nyata, tidak dipengaruhi oleh hal seperti ini (walaupun rasanya begitu). Saat orang menjelekkan kita karena sesuatu yang kita percayai, yang ia lakukan itu sia-sia, karena harga diri manusia tidak terletak di apa yang mereka pecayai, melainkan dari apa yang ia perbuat.
Ini mungkin sulit ditelan oleh orang yang punya rasa rendah diri (termasuk saya). Tetapi percayalah, strata sosial tidak bisa diperbaiki dengan mengalahkan orang lain dalam debat. Apalagi debat internet.
Kamu hanya akan merasa letih.
Lalu bagaimana cara terbaik menangani rasa "tidak terima" ini?
Salah satu cara terbaik adalah dengan menyadari fakta bahwa kamu menyukai sesuatu yang tidak sempurna [1], dan sebagai konsekuensinya, kita memang tidak sempurna. Tidak sempurna itu tidak apa-apa. Kita hanyalah manusia. Di luar dugaan orang, mengakui ketidaksempurnaan adalah jalan tercepat menuju kepercayaan diri yang kokoh.
Jika ini masih sulit, terutama jika kita masih yakin betul tentang kesempurnaan "FANDOM FAVORIT" kita, mungkin bisa dicoba dengan mengingat bahwa di dunia ini ada banyak macam jenis manusia.
Setiap orang punya pola pikir yang berbeda-beda. Ini karena manusia tidak bisa benar-benar lepas dari pengaruh lingkungan tumbuh dan situasi hidupnya. Dengan menyadari latar belakang orang tersebut kita bisa maklum akan perbedaan dan berbesar hati dengan kritikan yang datang.
Saat kita bisa memaklumi bahkan pengkritik kita yang paling cadas, saat itulah kita bisa hidup dengan kehormatan sejati.
Catatan kaki:
[1] Ada beberapa fandom yang bersikukuh bahwa fandomnya memang yang paling sempurna. Di sini saya cuma bisa bilang, semua yang ada di dunia ini relatif dan bercela. Kalau ada yang sempurna, ia pasti bukan dari dunia ini. Mungkin orang isekai.