Viewing: pasar-bebas

Pasar bebas, adalah pasar di mana harga ditentukan murni oleh mekanisme pasar, tanpa diatur oleh pihak manapun. Mekanisme pasar di sini maksudnya adalah interaksi antara permintaan dari konsumen dan persediaan oleh produsen.

Dalam pengertian ini, pasar bebas bisa kita anggap sebagai penerapan demokrasi untuk menentukan harga, di mana rakyatnya adalah semua peserta ekonomi tersebut. Karena tidak ada satu pihak pun yang punya wewenang mutlak untuk menentukan harga yang tersedia di pasaran dan semua orang punya kemampuan untuk mempengaruhi harga.

Dan demokrasi selalu bagus ya kan? Ya kan?

American Eagle

(Bcanda bcanda. Demokrasi itu satu sistem yang ampuh untuk meredam perang. Kalau sehat.)

Harga Barang dan Harga Jasa

Sebelum membahas lebih lanjut, mari coba kita telaah apa maksudnya harga barang dan jasa. Rada basic tapi menurutku penting untuk dibahas dulu.

Kita sudah paham betul lah ya, yang dimaksud dengan harga barang. Banyak teman-teman kita yang punya jiwa dagang yang bagus. Makelar segala macam mulai dari hape, mobil, telur, shampoo, dan lainnya. Kita juga tahu kalau sesuatu menjadi langka maka efeknya harga barang itu akan naik.

Ini disebabkan karena orang-orang pada rebutan untuk mendapatkan barang itu. Jadi, siapa yang bisa bayar lebih tinggi, dia yang akan dapat. Inilah esensi sederhana dari prinsip utama ekonomi ini.

Bagaimana dengan harga jasa? Tukang tambal ban atau tukang cukur misalnya. Harga untuk jasa ini juga secara alami bergerak sesuai dengan permintaan dan persediaan. Bayangkan kalau dalam satu kota hanya ada satu orang yang bisa motong rambut, apa yang akan terjadi? Orang akan berebut untuk mengantri dipotong rambutnya.

Secara alami orang yang bisa/bersedia bayar lebih banyak akan didahulukan oleh si pemotong rambut. Sementara orang yang tidak bisa/tidak mau bayar lebih harus rela dinomorduakan atau bahkan tidak pergi potong rambut (alias tidak kuat bayar tukang potong rambut).Dan hasilnya, harga akan bergeser naik, dengan kata lain kita bilang jasa orang ini sangat berharga.

Harga Jasa atau Nilai Jasa?

Dalam situasi tukang cukur dia atas, secara tidak sadar kita di situ akan bilang, jasa orang ini sangat berharga. Karena dia langka. Kita lalu bayar dia dengan harga yang sangat tinggi.

Ini menarik sekali karena jasa yang berharga itu menurut saya terkadang tidak sejalan dengan harga yang ditetapkan oleh mekanisme pasar ini.

Contoh yang paling jelas adalah yang sering kita sebut dengan "Pahlawan Tanpa Tanda Jasa". Atau yang lebih sering kita sebut dengan sebutan guru. Kita dari dulu sering dengar wacana politik untuk "naikkan gaji guru!!" Super sekali.

Wacananya.

Belum pernah jadi kenyataan. (Atau sudah?)

Guru adalah salah satu jenis pekerjaan yang sangat berharga. Mestinya.

Dan kita tahu itu.

Tapi pasar kerja tidak setuju dengan pendapat kita tentang seberapa berharganya kerja guru. Pasar kerja cuma tahu seberapa banyak jumlah orang yang ingin jadi guru, dia bandingkan dengan berapa banyak lowongan guru, terus blar, dia tentukan harganya begitu saja.

Tanpa tahu kalau jasa guru sangat penting bagi umat manusia.

Jadi, apakah sebenarnya kita sebagai masyarakat betul-betul menghargai jasa guru? Patut dipertanyakan.

Pembunuh Bayaran versus Tenaga Medis

Ini satu perbandingan lagi yang termasuk ekstrem. Coba kita lihat harga jasa seorang pembunuh bayaran dan bandingkan dengan harga jasa perawat atau dokter.

Pembunuh bayaran rata-rata satu kali hit bisa dapat 30 ribu sampai 50 ribu dolar. Sementara dokter bedah di Amrik, rata-rata setahun dapat 343 ribu dolar setahun, yang berarti sebulan dia dapat sekitar $28.500.

Kita menilai harga jasa orang untuk menghilangkan nyawa dan menyelamatkan nyawa bisa hampir setara. Padahal kita tahu jasa untuk menyelamatkan nyawa sangat jauh lebih penting dan bernilai ketimbang jasa untuk menghilangkan nyawa.

Kok bisa begini?

Kalau dilihat dengan cara begini memang aneh. Tapi untuk sehari-hari kita tidak merasa aneh sama sekali. Karena kita sudah paham betul prinsip-prinsip ekonomi yang berlaku di masyarakat tidak kenal tataran nilai abstrak semacam ini. Kita masih menilai jasa seseorang murni dari nilai ekonomi yang diberikan oleh mekanisme pasar. Kasarnya kita bisa bilang kalau kegiatan ekonomi murni semacam itu buta moralitas.

Ekonomi menurutku pada dasarnya adalah fenomena alam. Dia bukan konstruksi buatan manusia. Kita bisa mengamati perilaku objek-objek ekonomi, mencari tahu prinsip-prinsip dasar yang dia ikuti. Atau bahkan bisa kita berusaha mengendalikan beberapa perilaku ekonomi suatu masyarakat, walau susah diperkirakan seberapa sukses kontrolnya. Tapi jatuhnya dia adalah fenomena alam yang terbentuk dari interaksi kompleks antara manusia dalam sebuah masyarakat saat masing-masing berusaha memenuhi kebutuhan masing-masing.

Jadi, iya. Aku berargumen kalau ekonomi itu buta moralitas. Paling tidak secara murni.

Peranan Peraturan dan Hukum

Sebenarnya, kita sudah punya sistem dalam masyarakat yang berperan untuk mengimbangi keadaan yang jelek ini. Namanya sistem hukum dan peradilan.

Di sini peranan pemerintah sangatlah penting. Pemerintah di sini bukan dalam artian "pemerintah ga becus, pemerintah bikin banjir, pemerintah menindas". Bukan. Bukan yang seperti itu. Di sini, pemerintah adalah alat supaya kita bisa melakukan sesuatu. Alat supaya kita bisa mengatur, menghukum yang menyimpang.

Sistem pemerintahan kita (tepatnya DPR?) menciptakan yang namanya undang-undang. Ini alat yang sangat penting. Inilah alat yang paling utama bagi kita untuk mengatur fenomena alam yang liar bernama ekonomi itu agar dia bisa jinak dan bertingkah sesuai seperti yang kita inginkan, dan tidak menerkam kita dalam keseharian.

Dengan undang-undang, kita bisa bilang, hey, itu guru ga boleh dihargai rendah begitu. Dia itu penting, mari kita bayar dia lebih. Kita atur supaya dia dapat lebih. Karena dia penting. Karena dia berjasa.

Tentu saja aku tak tahu apa undang-undang yang mengatur gaji guru itu sudah ada atau belum. Saya hanya rakyat jelata yang tak terlalu berpendidikan (tapi banyak ngomong wkwk). Semoga saja sudah ada.

Karena itu, kalau kamu punya energi dan keinginan untuk bikin sekitarmu lebih baik. Masuklah ke politik dan ciptakan peraturan yang menjinakkan.

Atau kalau tak bisa, ajaklah orang sekitarmu untuk mengingat kembali bahwa ada nilai yang lebih penting daripada sekedar uang.