Viewing: menghadapi-monster-bag1

Obluda monster tanpa nama

Masih jelas di ingatan saya, ketika masih SD kelas 4 dulu, saya pernah bermain sepak bola di halaman sekolah bersama teman-teman saya. Tentu saja saya tidak jago, cuma hanya ikut untuk bermain bersama supaya bisa menjadi bagian di antara teman-teman. Saya selalu menghitung berapa kali saya berhasil menendang bola dalam sehari. Semakin banyak, semakin bangga rasanya.

Rendahnya keterampilan saya tidak terbatas olahraga. Saya pernah dipilih untuk ikut event paskibra waktu SMP karena badan saya kekar. Tapi saat latihan, saya dicopot karena terlihat tidak bisa mengikuti irama gerakan bersama barisan yang lain.

Tidak berhenti di situ. Rendahnya keterampilan saya juga terlihat dari sisi sosial. Saat SMA saya pernah disuruh menjadi ketua panitia sebuah kegiatan pentas panggung. Saya masih ingat protes teman-teman panitia yang lain kalau yang saya lakukan tiap hari hanyalah bertanya tentang progres orang lain. Saya sendiri tidak melakukan apa-apa. Kepemimpinan saya rendah.

Sebagai anak buah saya juga cenderung mengalami kesulitan. Sering mengambil keputusan sendiri, tidak berkoordinasi dengan orang lain. Tugas-tugas yang kecil dan tidak melibatkan orang lain saja saya sering tidak teliti dan melakukan banyak kesalahan.

Dengan segala pengalaman seperti di atas, mungkin wajar kalau saya merasa sangat was-was dengan masa depan. Sering saya dengar, kalau saat mencari kerja, yang dibutuhkan adalah orang-orang yang bisa bekerja dalam tim, punya leadership, dan sebagainya. Katanya, orang tidak butuh seseorang yang "pintar di sekolah". Kita harus punya soft-skill. Punya koneksi. Lihai bergaul dan punya banyak teman.

Saya tidak punya banyak teman.

Semua ini menggiring saya untuk memilih karir di bidang teknis sampai akhirnya saya bekerja di sebuah perusahaan alat kesehatan dalam divisi riset dan pengembangan produk. Memanfaatkan satu-satunya kelebihan saya, yaitu "pintar di sekolah" (yang mana sebenarnya tidak pintar-pintar amat dalam skala kabupaten sekalipun).

Tapi setelah lebih dari lima tahun saya bekerja di sini, kurangnya keahlian sosial di atas terbukti menjadi penghalang saya menikmati pekerjaan. Saya sempat depresi dan merenungkan pindah karir saja. Tentu saja itu pikiran naif. Karena saya belum menyentuh inti dari permasalahan yang saya miliki.

Setelah berhasil melewati episode depresif, saya mulai mengeksplor beberapa kondisi mental yang mungkin bisa menjelaskan kepribadian saya.

Bersambung...