Belakangan saya menyadari bahwa kebahagiaan bukanlah keadaan.
Jadi sebenarnya kita tidak bisa bilang "saya sedang bahagia", atau "saya sedang tidak bahagia". Karena pada dasarnya kebahagiaan bukanlah suatu keadaan (state), melainkan dia adalah suatu peristiwa (event).
Kebahagiaan adalah peristiwa, sesuatu yang kita alami. Misalnya, kemarin saya pukul 13:00 siang berhasil menyelesaikan pekerjaan dengan baik, lalu saya merasa bahagia. Di situ kebahagiaan terjadi pada satu titik waktu tertentu, dan setelah lewat titik waktu tersebut, kebahagiaan itu sudah tidak ada lagi.
Ini juga bisa kita temukan pada hal-hal yang sering orang kaitkan dengan kebahagiaan. Misalnya: membeli barang idaman, memulai hubungan baru (nikah/jadian), dapat pekerjaan baru, naik pangkat, naik gaji, kedatangan anggota keluarga baru, dan sebagainya. Semuanya kita rasakan dalam bentuk peristiwa.
Ini punya satu dampak besar.
Perjalanan mencari kebahagiaan, atau bahkan pertanyaan seperti “Apakah anda sudah bahagia?” menjadi tidak ada artinya. Orang yang mencari kebahagiaan konstan, akan merasa terkhianati, kecewa, saat kebahagiaan berkepanjangan tersebut tidak kunjung datang. Yang kita bisa lakukan hanyalah membuat peristiwa bahagia dalam hidup kita menjadi lebih sering.
Lalu Bagaimana?
Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana kita meningkatkan frekuensi peristiwa bahagia dalam hidup kita? Coba kita lihat rumus berikut.
(Peristiwa bahagia) = (Persentase peristiwa bahagia) x (Total peristiwa)
Dapat kita simpulkan, untuk meningkatkan jumlah peristiwa bahagia dalam hidup kita, kita perlu:
- meningkatkan jumlah total peristiwa yang terjadi
- meningkatkan persentasi peristiwa bahagia dari keseluruhan peristiwa.
Mari kita telaah satu-persatu.
Cara Meningkatkan Total Jumlah Peristiwa
Di dalam fisika, ada prinsip dasar di mana peristiwa hanya bisa muncul dalam perubahan. Tidak ada peristiwa apapun yang dapat muncul dalam sesuatu yang diam. Prinsip ini juga berlaku di mana saja. Jika kita hanya berdiam, atau tidak melakukan perubahan apapun, tidak banyak yang akan terjadi dalam hidup kita.
Prinsip #1: Tetap bergerak dan bebaskan diri dari berdiam.
Sebagai contoh penerapannya, kita bisa masukkan unsur baru dalam hidup kita. Misalnya, bertemu orang baru, lakukan kegiatan baru, belajar hal baru, ciptakan barang baru, dan sebagainya. Atau, kita juga bisa berusaha memperbaiki atau meningkatkan yang sudah ada, seperti misalnya mengontak teman dan keluarga, mengasah keahlian lama, atau mencari celah penghematan, dan sebagainya.
Cara Meningkatkan Persentase Peristiwa Bahagia
Berikutnya, kita perlu meningkatkan persentase peristiwa bahagia dari keseluruhan peristiwa yang kita alami. Ada beberapa faktor yang berpengaruh di sini, dan banyak di antaranya yang subjektif. Karena itu saya limpahkan detail spesifik kepada pembaca. Namun ada satu yang penting untuk dimulai.
Biasakan untuk secara sadar menggolongkan semua peristiwa yang terjadi, baik besar maupun kecil, ke dalam golongan berskala seperti berikut:
- Bahagia
- Tidak Bahagia
- Belum tergolongkan
Alasannya adalah karena seringkali kita tidak menyadari kualitas dari sebuah peristiwa dan otomatis melupakannya sebagai sesuatu yang tidak berarti. Dengan lupa menghitung dan menggolongkan peristiwa dalam hidup kita, kita tidak akan menyadari berapa banyak peristiwa bahagia yang terjadi dan kita akan bergantung kepada suasana hati (mood) untuk menakar kualitas hidup.
Prinsip #2: Berhenti menakar kebahagiaan dengan suasana hati. Takarlah dengan menggolongkan dan menghitung peristiwa secara sadar.
Dua prinsip yang disebutkan di atas tadi, jika diterapkan secara terus-menerus akan menggiring perilaku kita menuju peningkatan jumlah peristiwa bahagia. Prinsip pertama menjadi faktor pendorong kita untuk bergerak, sedangkan prinsip kedua memberi kita acuan tolok ukur apakah kita bergerak ke arah yang benar.
Tentu saja, ini hanya prinsip dasar. Penerapannya akan jauh lebih kompleks dan melibatkan banyak sudut pandang yang mungkin saling bertentangan. Tetapi saya yakin, menyadari bahwa keadaan bahagia itu tidak ada akan membebaskan hati kita dari harapan palsu dalam usaha mencapai kebahagiaan. Terutama bagi yang rentan dengan pikiran-pikiran depresif dan nihilis.
Persamaan dan dua prinsip di atas tadi juga memiliki arti bahwa usaha mencari kebahagiaan akan selalu dibarengi dengan peningkatan peristiwa tidak bahagia. Sekali lagi saya tekankan, usaha mencari kebahagiaan akan selalu mempunyai efek samping meningkatnya peristiwa tidak bahagia.
Kita harus menerima itu, dan terus bergerak.